Palembang- Sudah hampir dua tahun RS Siti Khadijah, Palembang, menunggu izin BPJS Kesehatan agar pasien jantung BPJS bisa dioperasi di rumah sakit itu.

Selama ini cath lab rumah sakit tersebut hanya untuk pasien non BPJS, padahal banyak pasien BJPS yang berharap bisa dioperasi di rumah sakit tipe B ini.

BPJS memberi syarat rumah sakit ini mesti memiliki dokter tetap. Sebelumnya, ada sejumlah dokter ahli jantung yang diharapkan bisa mengoperasi penyakit jantung pasien BPJS dan karena itu BPJS bisa mengeluarkan izin untuk itu. Ternyata BPJS mensyaratkan dokter di rumah sakit tersebut mesti dokter tetap, Di Palembang sendiri dokter ahli jantung  seluruhnya terserap di rumah sakit pemerintah.

Kini langkah yang dilakukan RS Siti Khadijah merekrut dokter ahli jantung swasta dari Jambi dan menawarkannya sebagai dokter tetap rumah sakit itu. “Kami berharap dengan demikian, tidak ada alasan lagi BPJS tidak menurunkan izin rumah sakit ini bisa menerima pasien BPJS untuk melakukan tindakan jantung di sini,” kata juru bicara RS Siti Khadijah, Ariesto Martinos. []

 

POST TAGS:

Jakarta – Vaksin COVID-19 CoronaVac dari Sinovac tahap ke-empat Selasa, 2 Februari tiba di Bandara Soekarno Hatta hari. Vaksin tersebut berjumlah 10 juta vaksin ditambah 1 juta vaksin untuk overfilled dalam bentuk bulk. Sampai saat ini total vaksin yang telah diterima Indonesia sebanyak 28 Juta vaksin.

”Kedatangan vaksin tahap keempat ini menjadi kelanjutan kedatangan tahap pertama dan kedua pada Desember 2020 sebanyak total 3 juta vaksin, dan tahap ketiga dalam bentuk bulk sebanyak 15 juta vaksin pada 12 Januari 2021.” kata Sekjen Kementerian Kesehatan  Oscar Primadi.

Menurut Oscar, ketersediaan vaksin aman dan sesuai skema yang telah direncanakan berkat lancarnya koordinasi dan komunikasi berbagai pihak, termasuk komitmen Sinovac,.

Vaksin Sinovac yang sudah tiba ini merupakan kali kedua dalam bentuk bulk yang kemudian akan diproduksi oleh Bio Farma. Bio Farma sudah mendapatkan sertifikat CPOB (Cara Pembuatan Obat Yang Baik) dari Badan POM.

Berdasarkan rencana, tahap pertama vaksinasi COVID-19 dilakukan pada Januari-April 2021 bagi sekitar 1,5 juta tenaga kesehatan dan 17,4 petugas publik di seluruh daerah di Indonesia. Untuk tenaga kesehatan, diharapkan dapat selesai pada akhir Februari 2021.

”Hingga saat ini, vaksinasi telah dilakukan kepada lebih dari 500 ribu tenaga kesehatan dan tahap untuk total 1,5 juta tenaga kesehatan diharapkan selesai sebelum akhir Februari,” kata Juru Bicara Pemerintah Vaksinasi COVID-19 dari Kementerian Kesehatan, Siti Nadia Tarmidzi.

Sesuai dengan kalkulasi, peruntukan vaksin bagi tenaga kesehatan dianggap telah tercukupi oleh vaksin jadi yang datang pada tahap satu dan dua. Sehingga, untuk pengiriman tahap ketiga dan keempat ini, rencananya akan dialokasikan bagi para petugas publik yang ada di seluruh Indonesia.

”10 juta dosis vaksin yang kita terima hari ini rencananya juga akan digunakan untuk vaksinasi bagi petugas pelayanan publik,” kata dr. Nadia.

Juru Bicara PT Bio Farma Bambang Heriyanto Mengungkapkan overfilled adalah ekstra volume yang diberikan oleh Sinovac untuk mengantisipasi proses produksi di Biofarma.

”Bahan baku yang kita terima hari ini merupakan bahan baku yang didatangkan dari Sinovac sebanyak 140 juta dosis untuk tahun 2021 yang pengirimannya akan dilakukan secara bertahap hingga Juli 2021 yang sebelumnya direncanakan November 2021, ini ada percepatan maju hingga Juli 2021,” kata Bambang. []

 

POST TAGS:

Jakarta – Ada beberapa gejala Covid-19 yang tidak biasa setahun terakhir ini . Seperti ruam kulit  atau rambut rontok. Kini ada gejala baru yang berasal dari lidah, yang disebut dengan covid tongue.  Selain hilangnya rasa, alah satu dari 11 gejala resmi oleh CDC, para ahli kini memperingatkan bahwa pembengkakan lidah dan sariawan yang aneh juga harus Anda perhatikan.

Menurut surat penelitian yang diterbitkan dalam British Journal of Dermatology, 25 persen pasien COVID yang diteliti oleh dokter pada puncak pandemi di Spanyol memiliki gejala di mulut mereka. Temuan rongga mulut ini termasuk glositis (radang lidah) atau papilitis (radang lidah yang menyakitkan) yang dapat muncul sebagai benjolan, bengkak, kemerahan, atau bahkan sebagai rasa terbakar atau sensasi kesemutan. Beberapa juga mengalami warna lidah yang tidak merata.

Jadi, mengapa Covid tongue ini tidak terdeteksi selama hampir setahun? “Kebanyakan dokter lebih fokus pada jantung dan paru-paru dan meneruskan pemeriksaan mulut karena dapat meningkatkan risiko terinfeksi,” kata Thomas Russo, profesor dan kepala penyakit menular di Universitas di Buffalo di New York, kepada Health.

“Saya telah merawat sejumlah besar pasien covid-19, tetapi tidak ada pasien saya yang mengalami gejala ini, dan saya juga tidak mendengar siapa pun yang saya kenal mengeluhkannya,” Sunitha Posina, MD, seorang dokter penyakit dalam yang bekerja di garis depan pandemi COVID-19, kepada InStyle. “Mungkin saja itu luput dari perhatian, terutama jika itu ringan,” tambahnya. Dengan kata lain, sulit untuk mengetahui berapa banyak orang yang benar-benar mengalami sakit, bengkak, atau benjolan pada lidah akibat COVID.

Kabar baiknya adalah Anda mungkin tidak perlu terlalu stres tentang penampilan lidah Anda dan terlibat dalam hiruk-pikuk pencarian gambar Google. Pertama-tama, gejala ini tidak spesifik untuk COVID-19. Faktanya, ini bisa jadi hasil dari sejumlah virus yang dapat menyebabkan luka pada mulut, seperti sifilis, herpes tipe 1, atau HPV, kata Dr. Posina – atau bisa juga karena iritasi dari sesuatu yang Anda makan.

Selain itu kecil kemungkinannya peradangan lidah atau benjolan akan menjadi satu-satunya gejala virus corona Anda. “Anda kemungkinan besar akan mengalami beberapa gejala lain bersamaan dengan ‘Covid tongue’ seperti batuk, demam, hilangnya sensasi penciuman dan / atau rasa,” kata Dr. Posina, yang akan memberi tahu Anda terlebih dahulu. Karena itu, jika Anda mengenali sesuatu yang tidak normal dengan lidah Anda, sebaiknya Anda melakukan tes sebagai tindakan pencegahan, tambahnya.

Keberadaan Covid tongue pasti valid bagi mereka yang mengalami gejala dan dites positif Covid-19 tanpa mengetahui bahwa ini adalah hal yang nyata, tetapi lidah yang tampak agak berbeda belum tentu sesuatu yang membuat panik saat ini. Terutama jika Anda tidak memiliki gejala lain atau belum pernah terpapar Covid-19.(sumber tempo.co)

POST TAGS:

Jakarta – Susunan daftar direksi Badan Penyelenggara Jaminan Sosial(BPJS) Kesehatan yang dipilih Panitia Seleksi dinilai menunjukkan adanya harapan karena para kandidat memiliki latar belakang yang berbeda-beda dan banyaknya pejabat deputi yang ‘naik tingkat’.

Koordinator Advokasi BPJS Watch Timboel Siregar menilai bahwa daftar nama yang disampaikan Panitia Seleksi Calon Direksi BPJS Kesehatan kepada presiden memiliki komposisi yang menarik. Salah satu yang menjadi perhatian Timboel adalah latar belakang para kandidat, selain kredibilitasnya yang telah teruji.
Menurut Timboel, banyaknya pejabat di tingkat deputi yang lolos ke tahap final menunjukkan adanya kesempatan yang terbuka bagi seluruh lapisan untuk memimpin BPJS Kesehatan. Kompetisi terbuka itu dinilai dapat menjadi modal yang kuat untuk perbaikan ekosistem Jaminan Kesehatan Nasional. “Di seleksi BPJS Kesehatan ini ada beberapa deputi naik, dari wilayah, ini menjadi preseden yang baik,” ujar Timboel.
Terdapat lima orang pejabat setingkat deputi direksi yang lolos sebagai kandidat direksi BPJS Kesehatan. Mereka bersaing dengan eksekutif-eksekutif lainnya, termasuk dua orang direktur di tubuh badan pelaksana program JKN itu.

Kelima orang tersebut yakni Deputi Direksi Bidang Manajemen Data dan Informasi BPJS Kesehatan Andi Afdal, Deputi Direksi Bidang Treasury dan Investasi BPJS Kesehatan Arief Witjaksono Juwono Putro, serta Deputi Direksi Bidang Jaminan Pembiayaan Kesehatan Primer BPJS Kesehatan Ari Dwi Aryani.
Lalu, terdapat Deputi Direksi BPJS Kesehatan Wilayah Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat dan Jambi Eddy Sulistijanto; serta Deputi Direksi BPJS Kesehatan Kedeputian Wilayah Jawa Barat Fachrurrazi.

Adapun, pejabat setingkat direksi yang bersaing dalam seleksi calon direksi BPJS Kesehatan periode 2021–2026 adalah Direktur Perencanaan, Pengembangan dan Manajemen Resiko BPJS Kesehatan Mundiharmo. Satu orang lainnya berasal dari instansi sedarah, yakni Direktur Keuangan BPJS Ketenagakerjaan Evi Afiatin.
Menurut Timboel, jajaran direksi terpilih harus mampu menyelesaikan masalah-masalah klasik dari penyelenggaraan JKN. Beberapa hal yang selalu menjadi sorotan yakni tingkat kepesertaan, data kepesertaan, pelayanan di fasilitas kesehatan, hingga penyempurnaan ekosistem secara holistik. “Direksi ke depan harus bisa belajar dari persoalan tujuh tahun ke belakang. Tahun ini paling tidak persoalan bisa selesai, ke depannya bisa lebih baik lagi,” ujar Timboel. (bisnis.com)

POST TAGS: